Sabtu, 08 Oktober 2016

-[ Sahabat ]-





Bagi saya, sahabat adalah orang yang selalu ada. Baik senang maupun susah. Tak mudah memang menemukan orang yang sepaham dengan kita, pola pikir, kesukaan, ataupun jalan hidup yang dipilih. Awalnya saya sama sekali tidak pernah memilih untuk masuk ke pesantren, murni, itu adalah pilihan kedua orangtua saya. Dan sooo, lambat laun, saya menyadari, pilihan bapak dan ibu ada benarnya juga. Sahabat tidak memandang muka, mau sebelengek apapun, kalau namanya sahabat, ya selalu saling rangkul. Kalau saling sikut, itu namanya orang lagi main bola.

Di pesantren, mudah sekali menemukan sahabat. Dia orang yang suka memberimu pinjaman mungkin, atau orang yang selalu ada di setiap kali kamu minta dianterin boker mungkin, atau hal sepele, seperti ia rela diajak olehmu buat ngapel walau dia sendiri nunggu berjam-jam  sampai semua badan jadi lumutan.

Saya punya sahabat. Persahabatan kami sangatlah kental. Ia rela saya bangunkan tengah malam karena saya kebelet boker. Jarak untuk boker yang nyaman tanpa gangguan setan atau saudara-saudaranya adalah di kali yang ada di dekat Mesjid. Jaraknya itu kalau jalan kaki dipastikan capek. Catatan, itu kalau kamu jalan sambil jinjit. Oke, serius, maksudnya jaraknya itu cukup jauh lah. Dan ya! Dia rela nunggu sampai saya benar-benar merasa pulas. Akhirnya kami hidup serumah dengan akur saat itu, walau hubungan kami cuma sebatas sahabat. Karena kami sadar, hubungan kami tidak mungkin dilanjutan ke hubungan yang lebih serius lagi. Selain saya tak mau memutuskan garis keturunan, saya masih sadar, kata “sahabat” saya rasa adalah hubungan yang terbaik untuk kami. Kami pun bertahan cukup lama waktu itu, sekitar satu tahun kemudian ia memilih sahabat yang baru, dan begitupun saya.

“Orang pelit ngga punya sahabat.”

Banyak orang yang saya temukan di pesantren. Semuanya baik. Namun tidak semuanya yang bisa menjadi sahabat yang benar-benar membuat saya merasa nyaman. Jika dulu masih awal-awal mondok, sahabat dihitung dari seberapa ia betah dan bertahan denganmu dalam keadaan yang ia bisa jaga, namun tak bisa dalam keadaan terdesak. Sebab ia tak akan bertahan lama. Kini, ketika sudah bernajak MA/SMA, sahabat dilihat dari seberapa ia rela bertahan denganmu dalam kedaan apapun! Ia akan selalu ada di sampingmu! Bahkan dalam keadaan yang terdesak sekalipun! Ia akan membelamu walau betismu berakhir di rotan utadz.

Saya pernah menyaksikan sebuah adegan ketika dua orang yang ketahuan main playstation lalu diintrogasi ustadz di malam selanjutnya. Saya pakai nama samara saja, Ma’kul dan Cakup sebagai anak yang ketahuan. Oh ya, cuma Ma’kul yang kena introgasi.

“Kamu tahu kesalahanmu apa?” Tanya ustadz. Kebiasaan emang.

“Tahu ustadz….” Ma’kul menundukkan kepala.

“Kalau tahu, kenapa masih dikerjakan?”

“Ga ada kerjaan, Ustadz….” Jawab Ma’kul pelan.

“Itu kitab ngga pernah dibaca, sekarang bilang ngga ada pekerjaan. Sekarang, berdiri!” Bentak ustadz sambil memegang rotan yang sudah menghabiskan betis santri turun temurun itu.

“Oh ya, kamu main playstation sama siapa?” Ustadz mengurungkan diri untuk memecutnya.

“Sendirian, ustadz!”

“Tidak usah bohong!”

“Iya ustadz…” Mulut Ma’kul bergetar.

“Mana mungkin main ps sendirian. Cepat! Sama siapa kamu pergi! Saya dapat laporan dari masyarakat kalau kamu pergi berdua. Cepat!” Mulut ustadz sudah komat kamit, sementara itu kami menyaksikan adegan ini dengan penuh haru, ketegagan, dan penghayatan.

“Sama Pak Dapur ustadz….” Mulut Ma’kul bergetar.

“Kamu mau main-main sama saya? Mana mungkin Pak Dapur main ps, hah?”

“Bener ustadz! Saya sama Pak Dapur waktu itu. Kami main Gitar Hero.”

“Siapa yang nanya kamu main apa. Yang saya tanya kamu main sama siapa!”

“Kan udah saya bilang, Tadz.” Ma’kul kini rileks menjawab.

“Kamu pikir saya bodoh, Kul? Pak Dapur itu tidak ada, yang ada Ibu Dapur! Kecuali kalau kamu bilang main ps sama Buk Dapur, baru bisa ditolelir. Lagipula, Buk Dapur cuma bisa main api. Nyalain kompor, matiin kompor! Cepat, angkat sarungmu.”

“Plaaaaaaaaaak!” Betis Ma’kul berciuman dengan rotan. Adegan sahdu. Betis Ma’kul merah bekas gincu rotan. Dan rotan biasa-biasa saja. Begitulah sahabat, Ma’kul rela dihukum sendirian, walau resikonya hanya ia yang mendapatkannya.

***

Menyoal sahabat yang tadi, begitulah versi dari beberapa santri. Teman sepermainan, teman mengaji, atau teman membolos juga bisa dibilang sahabat. Asal dilakuinnya bersama. Namun, sebenarnya, ada sahabat yang sudah kita lupakan. Ia baik pada semua orang. Ia bisa berbaur dengan semua golongan. Baik santri yang kere, atau yang banyak duit. Namanya Mie, nama lengkapnya Mie Sedap Rasa Apa Aja. Ia menjadi penolong ketika lauk tak enak, nasi tak sedap, atau lapar di tengah malam ngga ketulungan. Ia tidak akan mengeluh ketika kami menjamahnya bersamaan, banyak orang. Walau ukurannya kecil, ia tak akan mengeluh walau air kuah lebih banyak 10 kali lipat dibanding yang seharusnya ia terima. Ia tak akan berontak ketika kami memergokinya sedang dimakan lalu kami ramai-ramai memintanya.

Oh, Mie.
Rasa Apapun Kamu.
Begitulah Kamu.
Sahabat Kami, Selamanya…

Terima kasih, Mie. Jasamu tak akan kami lupakan.


--- End ---


Baca Cupes lainnya :

Bagikan

Jangan lewatkan

-[ Sahabat ]-
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.