Rabu, 05 Oktober 2016

-[ Razia ]-





Saya punya teman, selalu satu kelas sejak 1 MTs sampai 3 MA. Kecuali ketika kelas 3 MTs dan 1 MA kala itu.  Namanya Gendoh. Ia bertubuh besar, badannya kekar, kalau kelahi selalu menye-menye dulu. Padahal yang dilawan lebih besar dan tentu kalah jika ia meladeninya.

“Lillahita’ala kamu berani lawan saya?” tanyanya kepada musuh.

“Aku serius! Ante bani lawan aku ne?” – ( Saya serius, kamu berani lawan saya nih? )

Dan tatkala lawannya sudah menyisipkan lengan baju, ia pun berujar, “Hehe, aku bejoraq, hep!” – saya cuma main-main. Begitulah Gendoh.

Jika ngomong, bahasanya campur-campur, bahasa Indonesia setengah, bahasa Sasak setengah, bahasa Zimbabwe setengah. Dan itu membuat kami – para santri tertawa terbahak-bahak kalau ia sudah mulai ngomong. Misalkan, di dalam kelas, ustadz sedang menjelaskan lalu melempar pertanyaan padanya.

“He kamu! Yang main-main di belakang! Kamu ngerti tidak dengan penjelasan bapak?”

Gendoh nyengir, mulutnya nguap – kebiasaan ia ketika kebingungan. Setelah itu ia bilang “QWRTJKSHSKIEHEBDBKSSOYEYBBCNVMID.” Kalian ngerti apa yang Gendoh bilang? Iya, dia sedang menggunakan bahasa campuran Indo – Sasak – dan Zimbabwe.

***

Di pondok, berita menyebar dengan cepat. Satu saja gosip yang sedang dibicarakan, semua santri/wati yang jumlahnya ribuan itu bisa tahu hanya dalam hitungan detik. Lebih cepat dari tikungan teman pada pacar yang sedang ngambek. Lebih cepat dari mantan yang putus dari pacarnya lalu ngajak balikan. Apalagi kasus yang cukup membahayakan bagi kami – misalkan ‘Nanti malam akan ada razia handphone.’ Atau ‘Nanti malam akan ada razia rambut.’ Berita seperti itu akan cepat sekali menyebar. Saya pernah mengalaminya beberapa kali selama mondok.

Waktu itu, ada berita kalau akan ada razia handphone ntar malam, kami pun bergegas dan cepat-cepat menyembunyikan milik masing-masing. Sial seribu sial, malam itu tidak ada razia apapun dan kami akhirnya harus kehilangan barang berharga kami sebab razia ternyata terjadi di malam berikutnya. Ketika handphone kami terkujur kaku di dalam lemari, ketika ia diam ‘silent’ tanpa bicara lalu tiba-tiba diambil, ketika ia lemas tak berdaya lalu dirampas sesuka hati.

Suatu ketika, di pagi hari, setelah pengajian yang langsung dipimpin oleh pimpinan pondok pesantren, Gendoh datang mengabarkan berita. “Ntar, pas masuk kelas, akan ada razia.” Sontak kami kaget dan ketakutan. Pikiran kami berpencar. Ada yang sudah berniat untuk menyembunyikan mantan, menguburkan mantan, bahkan ada juga yang sudah siap untuk diqhisos karena terlalu sering mengambil barang mantan padahal udah putus lama. Kami bertanya, “Razia apa, Doh?” Gendoh tidak mau menjawab. Ia cuma nyengir sambil memamerkan bibirnya yang berdiameter 4 x 3 cm itu.

“Loh!  Seriusan! Kita teman, kan?” bujuk kami.

“Sejak kapan?” Gendoh semakin sombong. Kami tahu, ini pertama kali dalam sejarah kalau kami memelas meminta bantuan padanya. Pada sebelum-sebelumnya, ia selalu mencium kaki kami, lalu setelah itu kami membasuhnya dengan 6 kali basuhan air dan satu kali campuran air dan pasir.

“Ayolah, kamu kan teman kami….” Saya coba mendekatinya. Catatan, ini pertama kali saya mendekatinya, biasanya dia terlebih dahulu mendekati saya. Apalagi ketika UAS, ia sering menanyakan mana yang akan ia pilih, a b c atau d, padahal yang ditanyakan sola essai. “Ini, Tar. Saya bingung mau pilih yang mana. Kenapa manusia berasal dari kera? Jelaskan proses awal sampai wujudnya seperti sekarang. Saya pilih a, b, c, atau d, ya?” lalu saya membalas, “Yaudah, pilih sesuai nuranimu saja! Hati nurani ngga pernah bohong” Kemudian ia pergi sambil berterima kasih, tapi sebelumnya ia akan selalu bilang, “Sebagai balasan, mau nggak kalau kamu aku ciiiiiii…..” Saya selalu memotong, “Nggak!”

***

Jam kelas pun akhirnya dimulai. Didahului dengan baris-berbaris. Tapi tak ada satupun tanda akan adanya razia. Padahal kami sudah menyembunyikan semua barang yang kemungkinan besar akan disita jika ketahuan. Gendoh tak ada, entah ia ada di mana. Hape, charger, celana jeans, foto mantan dengan pacar barunya, dan juga seperangkat mukenah gagal yang mulanya akan saya hadiahkan buat mantan, sudah saya amankan semua.

Dari kejauhan, Gendoh datang. Kami menatapnya serempak. Ia semakin dekat, dan tiba-tiba, ustadz yang saat itu sedang memimpin doa setelah menyampaikan pengumuman penting pun berujar, “Hey, kamu! Udah telat, jalannya pelan lagi! Cepat, pisahkan diri dari teman-temannya yang sudah rapi dan datang dari tadi. Lihat tuh, rapi, gagah, ganteng lagi!”

Saat itu kami sadar, yang dimaksud Gendoh razia itu bukan razia barang. Tapi razia orang. Iya, RAZIA ORANG JELEK. Dan dia adalah satu-satunya orang yang kena tilang pagi itu. Dohhhhh…. Gendoh…..

--- End ---


Bagikan

Jangan lewatkan

-[ Razia ]-
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.