Jumat, 22 Januari 2016

Baca Buku Bareng KCB





Saat ini, kegiatan membaca buku adalah salah satu hoby yang langka di muka bumi ini. Lebih-lebih di Indonesia. Data dari UNESCO pada tahun 2012 menunjukkan bahwa indeks tingkat membaca orang Indonesia hanyalah 0,001. Hal ini berarti, dari 1.000 penduduk, hanya ada satu orang yang mau membaca buku. Membuktikan minat baca untuk masyarakat Indonesia sangatlah kecil. Berbanding terbalik dengan pemuda pemudinya yang suka keluyuran tengah malam. Hijrah dari satu cafe ke cafe yang lain. Tidak membawa buku lagi.

Kita biasanya membaca buku menjelang waktu kepepet saja. Ada orang yang bilang, “The Power of Kepepet.” Di mana, waktu kepepet yang singkat itu mampu kita maksimalkan sebaik mungkin. Namun, apa iya, hanya pada waktu kepepet saja kita bisa melaksanakan itu semua? Contoh kecil saja, ketika malam menjelang UAS. Hampir, semua orang bisa memanfaatkan waktu terebut dengan sebaik mungkin. Waktu yang singkat itu bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin.

Kembali lagi ke masalah membaca. Sejujurnya, saya mulai suka membaca sejak kelas satu sekolah dasar. Tentu, yang dikenal kala itu hanya Budi dan anggota keluarga lainnya. Seiring beranjak ke kelas dua sekolah dasar, saya mengenal Tono, teman Budi. Pun dengan yang lainnya. Biasanya, Ibu saya yang berprofesi sebagai guru sekolah dasar itu seringkali membawa buku bacaan yang mayoritas dari buku itu adalah buku cerita anak dan dongeng. Tanpa pikir panjang, saya selalu melahapnya setiap hari. Dan, sejak saat itu pula, aktivitas membaca saya menjadi keranjingan tak kenal waktu dan selalu meminta Ibu untuk membawakan buku-buku yang lain.


Tamat dari sekolah dasar, saya masuk pesantren yang tentunya porsi bacaan saya jadi bebeda. Yang dulunya baca cerita pendek jadi baca ayat pendek. Bahkan menghafalkannya beserta terjemahannya. Yang dulunya baca novel kini baca kitab beserta tafsirannya. Asalkan membaca, saya tak pernah surut. Intinya membaca, urusan paham, itu belakangan. Toh, masih banyak orang sekitar yang senantisa membantu untuk mengarahkan.




Setor hafalan via youtube.com


Saya kadang merasa canggung melihat generasi sekarang yang lebih suka baca status orang yang panjang sekali. Belum tentu keabsahan atau tidaknya status tersebut, sudah dishare ke mana-mana. Bukan apa-apa. Di sini ada rasa prihatin. Membaca status lebih sering dilakukan daripada baca buku. Lalu, apa guna buku yang sudah dicetak? Bagaimana nasib buku yang seharusnya dibaca malah diabaikan. Bahkan, kita seperti orang yang sama sekali tidak mengenalnya. Lebih-lebih, bagaimana perjuangan seorang penulis untuk membuat satu buah buku. Dari royalti yang terbilang hanya beberapa sampai dengan pajak yang agak lebay. Di sini, peran pemerintah seharusnya bukan hanya membuat PPn saja, melainkan menanamkan minat baca kepada masyarakat yang terbilang rendah. Agar terjadi kesinambungan antara penulis dan pembaca. Tidak bisa dipungkiri, penulis adalah pencerita, pendongeng, dan juga penyampai kabar dari apa yang ditulis.




Setelah tamat dari pesantren, aktivitas membaca buku saya kembali tersalurkan lebih luas. Saya seolah-olah menemukan masa kecil saya kembali melalui buku. Atas itu pula, saya bersama teman-teman saya yang tinggal di Mataram, Lombok, mendirikan sebuah klub baca yang dinamakan Kelompok Cinta Baca. Sepintas, jika disingkat jadi KCB. Kelompok Cinta Baca belum lama. Belum juga anniversary yang pertama.


via Grup KCB

KCB adalah sebuah komunitas bebas. Komunitas yang didasari oleh anak-anak muda yang sama-sama suka membaca buku. Ingat, buku. Sebab kami tidak menerima anak muda yang suka baca status. Apalagi stalking. Jadwal resmi untuk berkumpul hanya satu kali dalam satu minggu. You know?  hari apa itu? hari Sabtu! Oh ya bukan hari Sabtu. Tapi Sabtu malam. Tepatnya lagi malam Minggu.

KCB tak memiliki tempat kumpul resmi atau basecamp. Kami hijrah dari satu tempat ke tempat yang lain. Sudah beberapa kali berkumpul, kami biasanya kumpul di Taman Sangkareang yang tiap malam Minggu banyak dihinggapi oleh muda-mudi yang tak lain sedang berpacaran. Kami cuek bebek. Tak peduli apa kata orang. Ketika diskusi membahas buku, setiap anggota menceritakan apa yang sudah dibaca selama satu minggu ini. Tidak peduli itu sampai mana atau apa yang dibaca. Mau kata pengantar sekalipun. Dan pasti, semua hal yang dirasa menggangu ketentraman ketika diskusi harus ditinggalkan. Buku ditumpukkan di depan kami – dan kami mengelilinginya seolah mengelilingi kobaran api unggun. Handphone dan sanak family-nya juga dikumpulkan dekat tumpukan buku. Diskusi pun dimulai. Tak lain, ini adalah agar kita fokus pada topik diksusi. Metode ini disisiati agar kita bisa menularkan semangat dan virus rajin membaca pada yang lain.


KCB di Kafe Kalikuma Ampenan


Ngomongin bagaimana cara saya bisa mendapakan buku bacaan. Biasanya, saya mengumpulkan uang sisa dari belanja. Misal, uang saya dalam pecahan lima ribu, kemudian belanja hanya tiga ribu, maka sisanya saya tabung. Begitu seterusnya dan menjelang akhir bulan bisa cukup untuk membeli satu atau dua buku. Bahkan, sebenarnya banyak cara untuk mendapatkan buku, ikut give away atau blog tour yang sering diadakan penerbit. Juga mengikuti kuis-kuis yang ada.

Minat baca kita tidak lain berkurang oleh tidak tahannya kita akan moderenesasi dan melawan teknelogi dengan baik. Teknelogi pun, harus dilawan jika memang mengacaukan. Namun ada baiknya berjalan. Beriringan. Tanpa harus digiring olehnya lebih dalam dan dalam lagi. Hingga melupakan sekitar, sosial, dan juga aktivitas yang seharusnya dilestarikan.

Seperti yang diusung oleh Stiletto Book. Penerbit Buku Perempuan  yang mengkampanyekan Book Addict is the New Sexy.” YEAH!!!

Tulisan ini diikutkan dalam lomba ulang tahun ke-lima Penerbit Stiletto Book








Nama : Lalu Muhammad Getar
Facebook : Muhammad Getar
Twitter : @Muhammad_Getar
Instagram : Muhammad_Getar
Email : lalumuhammadgetar@gmail.com




Bagikan

Jangan lewatkan

Baca Buku Bareng KCB
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.

25 komentar

Tulis komentar
avatar
22 Januari 2016 11.24

Asik nih. Itu di KCB ada cewek cantik tuh, Dek. Kamu nggak naksir?
Ikut 2016 Reading Book challenge gak nih?

Reply
avatar
22 Januari 2016 12.42

Wah sabtu malam yang bermanfaat ya diisi dengan KCB. Ya siapa lagi yang bisa meningkatkan animo baca di kalangan pemuda kalau kita tidak memulainya dari diri sendiri, bukan? hehehe.

Wah saya juga mau ikutan lomba ini nih, Mas.

Reply
avatar
22 Januari 2016 13.27

Untungnya, gue adalah 1 dari 100 orang itu. Yah, walaupun masih suka pilih2 bacaan~

Reply
avatar
22 Januari 2016 20.44

Emg bener yang lu bilang minat baca masyarakat itu kurang mereka lebih suka membaca status orng dsb, tapi setidaknya masih ada beberapa orng yang mempunyai minat baca

Reply
avatar
22 Januari 2016 20.44

Emg bener yang lu bilang minat baca masyarakat itu kurang mereka lebih suka membaca status orng dsb, tapi setidaknya masih ada beberapa orng yang mempunyai minat baca

Reply
avatar
22 Januari 2016 21.27

Bang.. klo update yg terkini dong..
data dari unesco tahun 2012, ini udah 2016. MOVE ON bang! hehehe

sapa tau tahun 2016 beda. Kayak ada manis2nya gitu

Reply
avatar
22 Januari 2016 22.09

jaman sekarang mah nggak terlalu banyak sih orang yang suka baca buku. padahal, baca buku seru-seru aja gue bilang.. imajinasi bermain. wahahaha, iya banget tuh. waktu sd.. si "budi" adalah pemeran utama di buku2 bacaan. biasanya budi ini dipasangkan dengan wati :")

Reply
avatar
23 Januari 2016 08.52

Kalo saya sangat mencintai buku, ya walaupun koleksi buku gak banyak tapi beruntung ada Internet banyak ebook gratis yang bisa didapat. Walaupun bacanya bikin sakit mata karena harus di depan layar mulu. Awal tahun ini udah nyiapin kantong untuk nabung beli buku, masih pengen beli buku lagi setelah awal tahuh kemaren beli 3 buku. hmmm.. Klub buku bagus juga, bisa diskusi dan salin pinjem-pinjeman buku. :D

Reply
avatar
23 Januari 2016 11.24

aku alhamdulillah masih suka baca tapi medianya kurang memadai. jadinya cuma baca koran aja. itupun kalo bapak beli koran

Reply
avatar
23 Januari 2016 18.07

Wah aku termasuk 0,0001 orang yang suka baca. Tapi membacanya gak cuma baca buku doang kan, aku juga sering baca lewat media lain kek e-book.

Ok, semoga sukses buat KCB dan lombanya.
Salam kenal :)

Reply
avatar
24 Januari 2016 06.48

Ayo, Mas. Mummpung deadline masih belum-belum.

Reply
avatar
24 Januari 2016 06.49

Bacaan sih tentang serela aja, Mas. Hehe

Reply
avatar
24 Januari 2016 06.50

Semoga kita masuk golongan orang-orang yang minat. :)

Reply
avatar
24 Januari 2016 06.50

Semoga kita masuk golongan orang-orang yang minat. :) (2)

Reply
avatar
24 Januari 2016 06.51

Saya belum dikenalin sama Wati. :(

Reply
avatar
24 Januari 2016 06.52

Heheh.. Suka yang gratis juga ternyata. :D

Reply
avatar
24 Januari 2016 06.53

Aamiin... Terima kasih doanya. :D

Reply
avatar
24 Januari 2016 10.16

Hah beneran 0,001 doang? parah banget berarti. Gimana penulis penulis mau kaya hahahah

WIh, konsep KCB yang ngomongin buku dan buku apa aja yang dibaca selama 1 minggu itu kayaknya bisa diterapkan tuh. keren eh..

Reply
avatar
24 Januari 2016 19.38

harusnya lo update juga data yang 2012 ke 2015 lah.. barangkali udah agak banyakan dikit haha

gue rasa membaca adalah gerbang ilmu pengetahuan, semuanya ada di buku. tapi orang indonesia kebanyakan lebih sering melihat gambar kayak tipi dan lain2 walaupun ada yang baca kayak yang lo bilang ,bacanya baca status.. hmmm..

Reply
avatar
1 Februari 2016 00.28

Hello salam kenal. Meninggalkan jejak kata telah bertandang disini. Rumah kata yg menyenangkan. Selamat berkata2 slalu

Reply