Rabu, 04 November 2015

Kampus Fiksi Part 3





Cemilan, kopi, teh, sudah menjadi bagian dari hidup kami di Jogja. Tanpa mereka, mana bisa kami hidup. *lirik perut masing-masing, sebab melirik perut orang itu kurang ajar*WKS

Jam 08.00, ada materi tentang keredaksian dari Mbak Munal. Tentang bagaiman naskah itu masuk. Naskah diterima, Alhamdulillah. Naskah ditolak, udah biasa aja. Cinta ditolak, makan naskah yang sudah ditolak. HAKK!




Mbak Munnal sedang menjelaskan

Sesi kedua setelah itu ada sharing dari Bang Ginanjar Teguh. Beliau alumnus KF13. Beliau menjelaskan banyak tentang proses menulis dan lainnya. Eh, Bang Ginanjar Teguh udah punya novel, judulnya Bulan Merah. Kami apa atuh, Bang! L Nulis diary setengah lembar aja ngga sanggup gara-gara diary-nya udah basah duluan.


Bang Gin

Bang Gin jadi pemateri selama satu jam. Setelah itu ada evalusi cerpen terpilih dan materi tentang state of mind, langsung dari Pak Edi. Dan cerpen yang terbaik adalah....

Ibu kita... Kartini Mbak Erin!  Selamat, Mba. Dapat baju basabasi.co , dapat fee. Mengalahkan cerpen Gus Mul aka Agus Mulyadi yang jadi panutan selama Kampus Fiksi. Yang ngga terpilih kayak saya, dan teman-teman lainnya, bagaimana kalau kita publikasikan cerpen kita masing-masing. Kita buat web, namanya basisekali.co . HAHA. Jadi, webnya berisikan naskah-naskah yang selalu ditolak dan banyak typonya. Colek mimin @KampusFiksi.


Pak Edi menjelaskan tentang state of mind

Jam 13.00 sampai 15.00, ada proses menulis novel sastra oleh Mas Makhfud Ikhwan. Kami lebih banyak tertawa ketika Mas Makhfud menjelaskan. Beliau bercerita mengenai novelnya. Apa saja yang menjadi tema besarnya. Proses menulis. Dan banyak yang lainnya.


Mas Makhfud. Penulis Kambing dan Hujan


Pak Edi dan Mas Makhfud

Setelah itu, sesi yang ditunggu-tunggu. Bimbingan menulis online dari Mbak Rina. Jadi, di sini ada bimbingan online bagi peserta yang ingin mengembangkan ide tulisannya menjadi sebuah novel. Nanti, bisa menghubungi Mbak Rina. Kalau mau ngajuin, kudu ikut Kampus Fiksi dulu. Ngga usah pusing masalah berapa bayaran tuk SPP-nya, cukup kirim cerpen kalau pendaftaran sedang dibuka.


Mbak Lubis, Nisrina udah tadi

Ishoma sampai pukul 19.00

Sesi ini adalah sesi yang tidak saya harapkan. Sesi penutupan oleh Pak Edi. Dan foto bersama. Penutupan, saya rasa ini bukan hal yang enak kedengarannya. Tiga hari bersama. Makan bersama. Mandiri bersama ngantri bersama, memiliki perasaan yang sama, tapi belum berani saling ungkap-mengungkapkan.

Kami harus berpisah dan kembali ke rumah masing-masing. Hidup seperti biasa. Meninggalkan Jogja, Kampus Fiksi yang selalu ada di hati. Berpisahan dengan saudara baru, gebetan baru, dan semua kisah tentang Kampus Fiksi yang kocak tapi serius.

Pak Edi membuat saya ingin meneteskan air mata. Tapi, setelah melihat yang lain biasa aja, air mata saya, harus saya tahan dulu. Barangkali, ada yang lebih dulu menangis, ternyata ngga ada. Menahan air mata memang sulit. Sama kayak nahan perasaan sama seseorang dan kitanya itu ngga pedean. Saya diam-diam menangis kecil. Sembari ketawa ngakak setelah melihat kerjaan Mimin @KampusFiksi yang menggelitik itu.
Pokonya malam itu adalah malam ketawa, sedih juga iya. Pokoknya asem garemnya perasaan dicampur jadi satu.


Kampus Fiksi angkatan 14 berpose manja dengan Pak Edi dan para mentor


Ini cuma bonus


Kelanjutannya ada di sini.



Bagikan

Jangan lewatkan

Kampus Fiksi Part 3
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.

4 komentar

Tulis komentar