Kamis, 24 September 2015

Bertemu Agus Magelang aka Agus Mulyadi




Jum’at lalu (21 Agustus 2015), saya dengar kabar Mas Aditia Purnomo bersama rombongan akan mengunjungi Lombok. Juga bersama dengannya, idola saya, Agus Magelang atau Agus Mulyadi.
Setelah saling contac dengan Mas Adit, katanya, Senin pagi rombongan bakal balik ke Jogja. Akhirnya, semalam (23 Agustus) saya ke Mataram buat mengunjungi mereka di Hotel Arianz.
Setibanya, ternyata rombongan dalam perjalanan menuju balik ke hotel. Saya duduk di loby hotel beberapa menit, tidak lama.
Wesss, bus tiba. Rombongan datang. Mas Eddwars S Keneddy penulis Sepak Bola Seribu Tafsir lewat di depan saya. Setelah itu rombongan lain menyusul. Saya reflek, berdiri, kemudian menyalami Agus dan Adit. Walah, saya malah dicie-cien. Agus tersenyum, saya ikut tersenyum. Rombongan yang saya tahu juga Nody, penjaga minumkopi.com, selebtwit Arman Dani, dan Annurrahman Wibisono. Ya, saya kenal mereka, mereka tidak mengenal saya. :D
Rombongan tadi menuju kamar masing-masing. Hanya Agus yang diam. Kemudian kami duduk di lobby hotel membicarakan beberapa hal.
“Gus, gimana kabarnya?”
“Alhamdulillah, baik…”
“Tadi kemana aja Gus?”
“Ke Aan, Payung…”
“Oh, pantai Aan Gus..”
“Iya…” Beliau tertawa kecil.
“Lah, saya kira Pantai Kuta cuma ada di Bali, di Lombok juga ada toh…” Katanya sambil tersenyum.
Saya tersenyum. Kemudian membicrakan hal lain, seperti blog beliau, buku beliau. Saya sempat bilang “Bukumu yang kedua ngga nyampai sini, Gus.”
“Oh, kalau yang itu memang distributor mengkhususkannya untuk beredar di Pulau Jawa saja dulu.”
Di sela-sela pembicaran, Adit muncul lagi. Dan kami membicarakan beberapa hal mengenai situs mojok, jombloo, dan lainnya.
“Besok ulang tahun mojok ya, Mas?” tanya saya.
“Wah iya, mau ke Jogja?” tanyanya sambil membuka tas berisi Buku Mojok yang akan diterbitkan besok.
Agus kembali menceritakan kenapa beliau bisa menjadi seperti sekarang ini. Cukup banyak.  Tapi kami tidak membicarakan perihal asmaranya. Sampai kemudian saya membuka ransel dan membuka plastik yang berisi gorengan.
“Gus, maaf. Tidak ada torabika-nya.”  Kata saya, karena saya tahu beliau suka kopi torabika.
Agus tertawa. “Wah, tidak apa-apa, Mas. Terima kasih”
Selang beberapa lama, saya pamit untuk balik ke kos. Karena melihat mereka berdua nampak kelelahan.





                                            Saya Agus Mulyadi, serta gorengan yang masih melekat di tangan




                                                                 Saya, Mas Agus, dan Mas Aditia


Bagikan

Jangan lewatkan

Bertemu Agus Magelang aka Agus Mulyadi
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.