Selasa, 30 Januari 2018

Akhirnya….. Wisuda

Akhirnya….. Wisuda



Akhirnya saya wisuda, setelah menyelesaikanya dalam kurun waktu 4 setengah tahun. Nunggu dosen, ngejar dosen, sampai dengan nunggu sembari lirik mahasiswi sudah tidak ada lagi. Awalnya pengen ngelanjutin ke S2, tapi berhubung saya bukan keturunan Bakrie, maka saya putuskan untuk berdiam diri di rumah. Menunggu hidayah atau ajakan untuk pergi ke mana, “Ayo kita mengembara!”
Tidak ada yang berubah setelah lulus kuliah, kecuali beberapa hal di atas yang terkait dengan perkuliahan. Status masih jomblo, elektabilitas masih begitu-begitu saja, bentuk wajah  masih seperti dulu. Tidak ada yang berubah, tidak ada. Kalaupun ada, hanyalah sesuatu yang tidak membanggakan. Sekarang saya sudah jadi pengangguran. Sebelumnya saya mahasiswa dan dengan PD-nya mamerin kartu tanda mahasiswa ke orang-orang. Sekarang kartu tersebut sudah tidak ada gunanya lagi. Ingin rasanya mengusulkan agar kartu tanda pengangguran dibuat, hitung-hitung nyaingin KIS, KIP, atau kartu-kartu lainnya.
Oh, gini rasanya, pengangguran itu berat! Eh tapi semoga segera dapat pekerjaan. Saya jadi ingat Dilan. Novel Pidi baiq yang dijadikan sebuah film. Saya jadi pengen ngomong sesuatu ke Dilan.
Dilan, saya ada pesan buat kamu. Kamu kan masih SMA, ya baik-baik ajalah. Jangan sok-sokan bilang rindu itu berat, kamu belum pernah rasain lulus kuliah setelah itu belum dapat kerjaan. Sesungguhnya, itu lebih berat dari rindu yang kamu bilang. Dan sebaiknya kalau Milea ulang tahun lagi, jangan kasih teka teki yang sudah diisi, saya takutnya Milea jadi malas baca karena kamu sudah isi. Ajak Milea berpikir, kalau perlu, beri dia koran bekas kemarin yang ada lowongan pekerjaannya. Karena rindu yang kamu bilang sebenarnya tidak berat. Sama sekali tidak berat. Yang berat hanya tafsirannya saja.
Oh ya, lewat postingan ini saya memberitahu kalau saya sudah aktif lagi buat ngeblog. Yeay! Akhirnya, setelah beberapa bulan tanpa tulisan.
Baca selengkapnya

Sabtu, 01 Juli 2017

Media Sosial yang Makin Menjemukkan





“Like, share, dan bagikan.”
“Bagikan kalau kamu memang mencintai agamamu!”
“Rezim parah!”
“Lengserkan!”
“Bantai! Usir China!”
“Azab mereka Ya Allah!”
“Kafir munafik!”
“Dasar muka dua!”
….. dan lainnya….

Berbagai umpatan saya baca. Satu persatu. Semakin lama semakin muak – yang awalnya jenuh biasa, makin ke sini makin parah. Ini rezim media sosial terparah yang saya alami. Katanya internet sehat, tapi kok ya pada sakit semua. Diberi obat penyejuk, ulama-nya malah dikatain macam-macam. Diberi nasihat, malah dikira pendukung golongan sebelah. Pusing? Iya, siapa yang ngga pusing.

Siapa yang kesel? Semua orang. Percaya deh, yang nge-share berita kemudian memaki sambil kesalnya, masih lebih kesal orang yang baca caption share-an mu yang itu-itu mulu. Ngga ada yang lain. Kalau bukan nada ancaman, pasti yang serupa dengannya. Mau diblokir ngga enak, didiemin makin parah, diunfollow ntar apa-apa. KZL!

Siapa yang pernah membaca setidaknya satu saja nada ancaman share-an kayak di atas. Saya yakin pernah. Kalau tidak, maka sujud syukurlah. Hidup kalian terselamatkan dari membaca umpatan yang membuat anda ingin mengumpat juga. saya sering kesel tingkat dewa! Ini siapa sih yang ngompor-ngomporin, sampai-sampai banyak orang yang saling membenci. Hanya karena beda pilihan, lalu dikatain macam-macam. Saya ndak habis pikir, kok ya bela manusia sampai segitunya. Ya benar, menurut sebagian orang yang fanatik padanya, hal bela-bela itu dikatakan bela ulama, tapi sebagian pembenci mengatakan pembela tidak. Saya termasuk yang bela mantan. Ya, siapa tahu balikan.

Saya tidak masuk ke dalam salah satu golongan. Itu dua golongan yang sudah jelas, mereka terpecah. Pendukung dan tidak. Bagi pendukung, pasti lawanya pemberontak, begitu juga sebaliknya. Pokoknya kalau kamu pembela Ahok, pasti kamu orang yang tidak suka pada orang yang ingin mendemonya, juga bagi pembela Riziq, mereka akan merasa kalau mereka adalah pembela ulama, pembela Al –Qur’an, pembela agama, pembela Islam yang paling wah!

Nah, saya, bagaiamana? Oke, anu, hmm. Apa ya, saya sebenarnya ya pengen banget menjadi salah satu pembela Islam itu. Secara, Islam adalah agama yang saya yakini 100% paling benar!  Sebagai umat muslim, saya juga wajib membela Al –Qur’an. Kitab mulia dan mukjizat terbesar yang dimilki Nabi Muhammad SAW. Tetapi, saya rasa ya, sebagai pembela ya jangan membela yang seperti itu. Ya tahu sendirilah. Saya mengerti apa yang diingikan mereka, “menimbulkan efek jera, kan? Biar tak ada yang meremehkan kitab suci atau melakukan hal serupa.” Tapi ya harus imbang juga. ketika orang yang dibela juga terlibat dalam menghina sebuah kepercayaan orang lain, ya harus dibela juga dong – dibela kasusnya biar dia juga mendapatan efek jera.

Lah lah. Terus saya dibilang pembela kafir? Allahu… Ini tentang keadilan. Ya, Ahok kan sudah dipenjara, tapi yang lain masih bebas. Kayak junjungan kalian itu. Beliau masih bebas-bebas aja kan? Sekali lagi, saya tidak memihak salah satunya. Saya bukan fanatik buta, hingga ia yang salah harus dibela mati-matian, ia yang benar harus dijatuhkan demi memenangkan idola. Saya pembela Kak Gita aja.

 
Kak Gita via Zetizen 

Ahok pasti pernah salah. Riziq juga. Mereka berdua manusia. Tuhan lah yang berhak mementukan mereka berdua masuk mana kelak – surga atau neraka. Tidak ada yang bisa mendahului kehendak Tuhan. Tuhan maha dari segala akal yang bisa dijangkau oleh manusia. Boleh membela, selama akal masih dipakai dan digunakan. Membela jangan mencaci. Membenci jangan merasa terzolimi.

“Akoe caiankkk kamUe.” Status lama dan serupa dengannya bikin saya kangen kalau kebetulan lewat di beranda medsos saya. Ketika membacanya, lucu, soalnya pernah gitu. Sekarang, semuanya bikin dahi mengkerut. Ya, mengkerut. Kayak mukamu! Haha!




Mataram, 1 Juli 2017




 
Baca selengkapnya

Senin, 19 Juni 2017

Hal yang Akan Saya Lakukan Bersama Asus Eeebook E202


Sumber Lomba Blog

Sebagai seorang mahasiswa, Saya dituntut untuk selalu energik setiap saat. Baik ketika mengikuti perkuliyahan atau di sebuah UKM(Unit Kegiatan Mahasiswa). Di luar keduanya, Saya juga terlibat di sebuah komunitas yang tidak jauh-jauh dari dunia kampus. Namanya KCB Mataram, sebuah komunitas literasi yang bermukim di Mataram, didirikan pada akhir tahun 2015.

Tentu, sebagai mahasiswa cum mantan mahasiswa yang pernah ikut UKM dan sekarang ikut di sebuah komunitas, Saya tidak bisa jauh-jauh dari laptop. Di kampus, laptop buat ngerjain laporan, buat makalah, nyusun skripsi, dan lainnya. Di komunitas literasi, laptop dibutuhkan untuk mengembangkan minat dan kemampuan Saya dalam bidang literasi.


Oh ya, pernah tidak kalian kepikiran punya laptop yang bisa dibawa kemana saja? tidak berisik, dan bisa dibawa bepergian lama tanpa was-was, ‘ini ntar nge-chargernya di mana ya?’ kalau iya, Saya juga sering kepikiran seperti itu.



Nah, kebetulan sekali loh! ASUS saat ini sudah mengeluarkan tipe terbarunya, namanya ASUS EEEBOOK E202. Percaya ngga kalau Saya bilang  ini adalah salah satu  yang ukurannya bahkan lebih kecil dari kertas A4? Iya, lebih kecil dari ukuran kertas yang sering dibuat jadi makalah. Bener kok! Netbook mungil ini hanya berukuran11,6 inci dengan resolusi 1366 x 768 piksel menggunakan TN (Twisted Newmatic) panel.  Sehingga pengguna akan lebih mudah dan nyaman membawanya. Khsusus bagi Saya, mahasiswa semester akhir korban rusaknya laptop lama, cocok lah menggunakan  ini. So, ini beberapa alasan Saya ingin menggunakan ASUS Eeebook E202 :

1. Desain mimimalis


Lebih kecil dari kertas A4

Setiap orang, ketika berniat ingin membeli sesuatu yang berbentuk fisik, pasti hal utama yang menjadi pertimbangan adalah masalah ukuran. “Berapa sih ukurannya? Besar ngga sih? Muat ngga kalau masuk tas?” Nah, begitu juga dengan Saya. Saya adalah mahasiswa semester akhir yang ditutut untuk cepat tanggap dan gesit bolak balik ke kampus karena setiap saat bisa menjadi ada berita penting. Bisa karena ada pengumuman mendadak atau sekadar untuk menulis beberapa bahan yang dijadikan refrensi dalam skripsi. Jadi, dengan adanya  ASUS Eeebook E202 yang mungil dan sudah didesain dengan desain minimalis, Saya berharap ngga ribet setiap kali mau ke kampus, “Ini bawa ngga ya? Berat euy! Ngga dibawa ntar ada yang penting. Dibawa ntar tahu-tahunya ngga ada apa-apa….”

Tipis banget, kan?

      2.  Baru Saja Kehilangan


Ini termasuk alasan yang amat pribadi sih. Jadi, memasuki semester delapan kemarin, musibah menghampiri Saya. Laptop yang sudah Saya miliki sejak semester tiga tiba-tiba blank. Ngga bisa hidup. Diperbaiki ngga bisa-bisa normal. Akhirnya ngalah dan beli laptop second dengan merk yang berbeda. Ngga sampai satu bulan, laptop second tersebut kembali ngadat. Layar LCDnya bergaris sehingga saya ngga fokus ngerajin skripsi. Akhirnya, saya ngga bisa berbuat apa-apa selain meminjam laptop ke sepupu saya. Alhasil, lomba blog ini juga ditulis dengan laptopnya. Wks!

      3. Variasi Warna yang Keren


Silakan mau yang mana?

Saya adalah salah satu orang yang suka banget lihat sebuah objek yang memilki warna bervariasi. Eeebook yang hadir dalam versi Windows 10 dan juga DOS ini tersedia dalam pilihan warna Silk White, Dark Blue, Lightning Blue dan Red Rouge. Salah satu warna kesukaan saya!

      4. Tahan Lama

Bekerja dimanapun oke...

Wetttt! Jangan mikir macam-macam dulu. Eeebook berukuran A4 ini menggunakan prosesor Intel hemat daya yang menawarkan masa aktif baterai hingga 8 jam, dan memiliki port USB 3.1 Type-C yang sangat menghemat waktu, karena  USB dapat dicolok dengan berbagai arah dengan colokan reversible setiap saatnya dan kecepatan transfer USB 3.1 ini lebih cepat 11x dibandingkan USB 2.0. Serta didukung Intel Pentium N3700 generasi Braswell quad-core yang berlari dengan kecepatan 1,6GHz hingga maksimal 2,4GHz yang dipadukan dengan memori RAM berkapasitas 4GB serta diperkuat oleh pengolah grafis dari Intel HD Graphics. Sudah bisa disimpulkan? Yak  ASUS Eeebook 202 ini, selain tipis minimalis, ringan karena ukuran, juga tahan lama dengan prosesor yang amat mendukung. 


Dilengkapi dual speaker dengan teknologi ASUS SonicMaster

Seperti  pada umumnya, ASUS 202 memiliki kapasitas penyimpanan berupa hard disk berkapasitas 500GB untuk menampung data pengguna WiFi, Bluetooth, Port HDMI, Card Reader dan lainnya. Simpan film banyak-banyak! :D Tapi revisian jangan dilupakan. :D

Ngga bikin bising

Selain keunggulan di atas, masih banyak keunggulan yang ditawarkan ASUS Eeebook 202 ini. Lebih lengkapnya, kalian bisa cek spesifikasinya di gambar berikut :

sumber : beritagar

Semoga dengan ASUS Eeebook 202 ini, skripsi saya bisa selesai, rutin nulis dan ngeblog ngga setengah-setengah lagi, begitu juga setiap kali travelling atau berkunjung ke suatu tempat bisa dibawa. Moga makin Produktif dan kreatif bersama ASUS E202!












Baca selengkapnya