Sabtu, 01 Juli 2017

Media Sosial yang Makin Menjemukkan





“Like, share, dan bagikan.”
“Bagikan kalau kamu memang mencintai agamamu!”
“Rezim parah!”
“Lengserkan!”
“Bantai! Usir China!”
“Azab mereka Ya Allah!”
“Kafir munafik!”
“Dasar muka dua!”
….. dan lainnya….

Berbagai umpatan saya baca. Satu persatu. Semakin lama semakin muak – yang awalnya jenuh biasa, makin ke sini makin parah. Ini rezim media sosial terparah yang saya alami. Katanya internet sehat, tapi kok ya pada sakit semua. Diberi obat penyejuk, ulama-nya malah dikatain macam-macam. Diberi nasihat, malah dikira pendukung golongan sebelah. Pusing? Iya, siapa yang ngga pusing.

Siapa yang kesel? Semua orang. Percaya deh, yang nge-share berita kemudian memaki sambil kesalnya, masih lebih kesal orang yang baca caption share-an mu yang itu-itu mulu. Ngga ada yang lain. Kalau bukan nada ancaman, pasti yang serupa dengannya. Mau diblokir ngga enak, didiemin makin parah, diunfollow ntar apa-apa. KZL!

Siapa yang pernah membaca setidaknya satu saja nada ancaman share-an kayak di atas. Saya yakin pernah. Kalau tidak, maka sujud syukurlah. Hidup kalian terselamatkan dari membaca umpatan yang membuat anda ingin mengumpat juga. saya sering kesel tingkat dewa! Ini siapa sih yang ngompor-ngomporin, sampai-sampai banyak orang yang saling membenci. Hanya karena beda pilihan, lalu dikatain macam-macam. Saya ndak habis pikir, kok ya bela manusia sampai segitunya. Ya benar, menurut sebagian orang yang fanatik padanya, hal bela-bela itu dikatakan bela ulama, tapi sebagian pembenci mengatakan pembela tidak. Saya termasuk yang bela mantan. Ya, siapa tahu balikan.

Saya tidak masuk ke dalam salah satu golongan. Itu dua golongan yang sudah jelas, mereka terpecah. Pendukung dan tidak. Bagi pendukung, pasti lawanya pemberontak, begitu juga sebaliknya. Pokoknya kalau kamu pembela Ahok, pasti kamu orang yang tidak suka pada orang yang ingin mendemonya, juga bagi pembela Riziq, mereka akan merasa kalau mereka adalah pembela ulama, pembela Al –Qur’an, pembela agama, pembela Islam yang paling wah!

Nah, saya, bagaiamana? Oke, anu, hmm. Apa ya, saya sebenarnya ya pengen banget menjadi salah satu pembela Islam itu. Secara, Islam adalah agama yang saya yakini 100% paling benar!  Sebagai umat muslim, saya juga wajib membela Al –Qur’an. Kitab mulia dan mukjizat terbesar yang dimilki Nabi Muhammad SAW. Tetapi, saya rasa ya, sebagai pembela ya jangan membela yang seperti itu. Ya tahu sendirilah. Saya mengerti apa yang diingikan mereka, “menimbulkan efek jera, kan? Biar tak ada yang meremehkan kitab suci atau melakukan hal serupa.” Tapi ya harus imbang juga. ketika orang yang dibela juga terlibat dalam menghina sebuah kepercayaan orang lain, ya harus dibela juga dong – dibela kasusnya biar dia juga mendapatan efek jera.

Lah lah. Terus saya dibilang pembela kafir? Allahu… Ini tentang keadilan. Ya, Ahok kan sudah dipenjara, tapi yang lain masih bebas. Kayak junjungan kalian itu. Beliau masih bebas-bebas aja kan? Sekali lagi, saya tidak memihak salah satunya. Saya bukan fanatik buta, hingga ia yang salah harus dibela mati-matian, ia yang benar harus dijatuhkan demi memenangkan idola. Saya pembela Kak Gita aja.

 
Kak Gita via Zetizen 

Ahok pasti pernah salah. Riziq juga. Mereka berdua manusia. Tuhan lah yang berhak mementukan mereka berdua masuk mana kelak – surga atau neraka. Tidak ada yang bisa mendahului kehendak Tuhan. Tuhan maha dari segala akal yang bisa dijangkau oleh manusia. Boleh membela, selama akal masih dipakai dan digunakan. Membela jangan mencaci. Membenci jangan merasa terzolimi.

“Akoe caiankkk kamUe.” Status lama dan serupa dengannya bikin saya kangen kalau kebetulan lewat di beranda medsos saya. Ketika membacanya, lucu, soalnya pernah gitu. Sekarang, semuanya bikin dahi mengkerut. Ya, mengkerut. Kayak mukamu! Haha!




Mataram, 1 Juli 2017




 
Baca selengkapnya

Senin, 19 Juni 2017

Hal yang Akan Saya Lakukan Bersama Asus Eeebook E202


Sumber Lomba Blog

Sebagai seorang mahasiswa, Saya dituntut untuk selalu energik setiap saat. Baik ketika mengikuti perkuliyahan atau di sebuah UKM(Unit Kegiatan Mahasiswa). Di luar keduanya, Saya juga terlibat di sebuah komunitas yang tidak jauh-jauh dari dunia kampus. Namanya KCB Mataram, sebuah komunitas literasi yang bermukim di Mataram, didirikan pada akhir tahun 2015.

Tentu, sebagai mahasiswa cum mantan mahasiswa yang pernah ikut UKM dan sekarang ikut di sebuah komunitas, Saya tidak bisa jauh-jauh dari laptop. Di kampus, laptop buat ngerjain laporan, buat makalah, nyusun skripsi, dan lainnya. Di komunitas literasi, laptop dibutuhkan untuk mengembangkan minat dan kemampuan Saya dalam bidang literasi.


Oh ya, pernah tidak kalian kepikiran punya laptop yang bisa dibawa kemana saja? tidak berisik, dan bisa dibawa bepergian lama tanpa was-was, ‘ini ntar nge-chargernya di mana ya?’ kalau iya, Saya juga sering kepikiran seperti itu.



Nah, kebetulan sekali loh! ASUS saat ini sudah mengeluarkan tipe terbarunya, namanya ASUS EEEBOOK E202. Percaya ngga kalau Saya bilang  ini adalah salah satu  yang ukurannya bahkan lebih kecil dari kertas A4? Iya, lebih kecil dari ukuran kertas yang sering dibuat jadi makalah. Bener kok! Netbook mungil ini hanya berukuran11,6 inci dengan resolusi 1366 x 768 piksel menggunakan TN (Twisted Newmatic) panel.  Sehingga pengguna akan lebih mudah dan nyaman membawanya. Khsusus bagi Saya, mahasiswa semester akhir korban rusaknya laptop lama, cocok lah menggunakan  ini. So, ini beberapa alasan Saya ingin menggunakan ASUS Eeebook E202 :

1. Desain mimimalis


Lebih kecil dari kertas A4

Setiap orang, ketika berniat ingin membeli sesuatu yang berbentuk fisik, pasti hal utama yang menjadi pertimbangan adalah masalah ukuran. “Berapa sih ukurannya? Besar ngga sih? Muat ngga kalau masuk tas?” Nah, begitu juga dengan Saya. Saya adalah mahasiswa semester akhir yang ditutut untuk cepat tanggap dan gesit bolak balik ke kampus karena setiap saat bisa menjadi ada berita penting. Bisa karena ada pengumuman mendadak atau sekadar untuk menulis beberapa bahan yang dijadikan refrensi dalam skripsi. Jadi, dengan adanya  ASUS Eeebook E202 yang mungil dan sudah didesain dengan desain minimalis, Saya berharap ngga ribet setiap kali mau ke kampus, “Ini bawa ngga ya? Berat euy! Ngga dibawa ntar ada yang penting. Dibawa ntar tahu-tahunya ngga ada apa-apa….”

Tipis banget, kan?

      2.  Baru Saja Kehilangan


Ini termasuk alasan yang amat pribadi sih. Jadi, memasuki semester delapan kemarin, musibah menghampiri Saya. Laptop yang sudah Saya miliki sejak semester tiga tiba-tiba blank. Ngga bisa hidup. Diperbaiki ngga bisa-bisa normal. Akhirnya ngalah dan beli laptop second dengan merk yang berbeda. Ngga sampai satu bulan, laptop second tersebut kembali ngadat. Layar LCDnya bergaris sehingga saya ngga fokus ngerajin skripsi. Akhirnya, saya ngga bisa berbuat apa-apa selain meminjam laptop ke sepupu saya. Alhasil, lomba blog ini juga ditulis dengan laptopnya. Wks!

      3. Variasi Warna yang Keren


Silakan mau yang mana?

Saya adalah salah satu orang yang suka banget lihat sebuah objek yang memilki warna bervariasi. Eeebook yang hadir dalam versi Windows 10 dan juga DOS ini tersedia dalam pilihan warna Silk White, Dark Blue, Lightning Blue dan Red Rouge. Salah satu warna kesukaan saya!

      4. Tahan Lama

Bekerja dimanapun oke...

Wetttt! Jangan mikir macam-macam dulu. Eeebook berukuran A4 ini menggunakan prosesor Intel hemat daya yang menawarkan masa aktif baterai hingga 8 jam, dan memiliki port USB 3.1 Type-C yang sangat menghemat waktu, karena  USB dapat dicolok dengan berbagai arah dengan colokan reversible setiap saatnya dan kecepatan transfer USB 3.1 ini lebih cepat 11x dibandingkan USB 2.0. Serta didukung Intel Pentium N3700 generasi Braswell quad-core yang berlari dengan kecepatan 1,6GHz hingga maksimal 2,4GHz yang dipadukan dengan memori RAM berkapasitas 4GB serta diperkuat oleh pengolah grafis dari Intel HD Graphics. Sudah bisa disimpulkan? Yak  ASUS Eeebook 202 ini, selain tipis minimalis, ringan karena ukuran, juga tahan lama dengan prosesor yang amat mendukung. 


Dilengkapi dual speaker dengan teknologi ASUS SonicMaster

Seperti  pada umumnya, ASUS 202 memiliki kapasitas penyimpanan berupa hard disk berkapasitas 500GB untuk menampung data pengguna WiFi, Bluetooth, Port HDMI, Card Reader dan lainnya. Simpan film banyak-banyak! :D Tapi revisian jangan dilupakan. :D

Ngga bikin bising

Selain keunggulan di atas, masih banyak keunggulan yang ditawarkan ASUS Eeebook 202 ini. Lebih lengkapnya, kalian bisa cek spesifikasinya di gambar berikut :

sumber : beritagar

Semoga dengan ASUS Eeebook 202 ini, skripsi saya bisa selesai, rutin nulis dan ngeblog ngga setengah-setengah lagi, begitu juga setiap kali travelling atau berkunjung ke suatu tempat bisa dibawa. Moga makin Produktif dan kreatif bersama ASUS E202!












Baca selengkapnya

Jumat, 02 Juni 2017

Menyambut Ramadan di Bumi Seribu Masjid



sumber : GENPI NTB

Ramadan telah tiba. Seluruh umat muslim di dunia menyambut dengan gembira. Hari kemenangan, demikian kita mengelu-elukannya. Di Indonesia, umat muslim menyambutnya dengan beragam cara. Khususnya di NTB, pemerintah menyelenggarakan beragam kegiatan poistif, terhitung dari awal memasuki satu ramadan sampai menutup bulan. Tak lain, itu semua adalah salah satu wujud syukur atas bertemunya lagi dengan bulan penuh berkah ini. Salah satunya dengan diselenggarakannya Pesona Khazanah Ramadan di bumi seribu masjid ini.

Beragam kegiatan diselenggarakan, mendatangkan imam besar dari negara timur tengah untuk mengisi shalat tarawih salah satunya. Selain itu ada juga pameran dan bazar serta kegiatan-kegiatan lainnya. Berpusat di Islamic Center – atau Masjid Hubbul Wathan, besar harapan nama NTB dilirik oleh dunia nasional bahkan internasional. Anime masyarakat dalam menyukseskan kegiatan ini sangat besar. Di malam pertama tarawih, jamaah beramai-ramai mendatangi icon Provinsi Nusa Tenggara Barat ini.

Ketika berbicara tentang ramadan, tahukah kita? di wilayah Indonesia dan umumnya Asia Tenggara, rata-rata kita berpuasa selama 13 jam. Berbeda dengan Negara Islandia, yang dimana, saudara muslim kita berpuasa selama 21 jam. Sedangkan umat muslim Australia hanya selama 10 jam saja. Terlepas dari itu, semua umat menyambutnya dengan bersukacita. Bukankah di setiap akhir ramadan, kita selalu beraharap untuk dipertemukan lagi dengan ramadan selanjutnya?




sumber : google image

Seperti yang kita ketahui, Lombok – dengan julukan Bumi Seribu Masjid memiliki penduduk mayoritas muslim. Jadi, wajar saja jika seluruh elemen masyarakat bergembira setiap ramadan tiba. Penduduk yang ramah, tempat wisata yang nyaman, dan kegiatan-kegiatan postif menjadi salah satu kenapa ramadan di Lombok sangat sayang sekali untuk dilewati. Kenapa ramadan kali ini sayang untuk dilewati?
           
1.      Wisata Halalnya

Lombok, pada tahun lalu meraih tiga penghargaan internasional pada ajang World Halal Tourism Award 2016 di Abu Dhabi, Uni Arab Emirate (UEA). Penghargaan yang mengulangi prestasi pada tahun 2015 lalu, dimana Lombok dinobatkan sebagai World’s Best Halal Tourism Destination dan World’s Best  Halal Honeymoon Destination. Jadi, bagi kalian yang suka wisata halal dan memilih Lombok menjadi tujuan, terjamin dan tak perlu khawatir jika nantinya menemui hal-hal yang tak diinginkan. 

2.      Serpihan Surga yang Jatuh ke Bumi

Tidak lebay ketika saya menggunakan diksi di atas. Yah, setiap jengkal pulau Lombok Sumbawa adalah surga. Dari ujung timur sampai barat, selatan sampai utara, tak henti-hentinya kita akan menjumpai keindahan yang tak ada habis-habisnya. Ibarat tebu tanpa kulit. Semuanya manis, indah, dan menyenangkan. Maka tidak terlalu berlebihan ketika saya menyebut Lombok sebagai serpihan surga, bukan?  Sudah indah, halal pula. Apakah masih belum tertarik?

3.      Khazanah Pesona Ramadan

Selain dua poin di atas, terakhir tentu saja terkait dengan kegiatan yang sedang diselenggarakan ini. Sebagaimana yang ditulis di atas, mengenai ramadan di Lombok, maka sudah seharusnya bagi orang yang belum pernah ke Lombok untuk iri sebab belum pernah mendatanginya. Jangan cuma dengar cerita, “Lombok itu begini… Lombok itu begitu…” Maka rasakan sekarang juga. Ramadan di pulau indah dengan kegiatan yang mengasyikan serta mendatangkan pahala, adalah cita-cita kita semua. Yuk ke Lombok Sumbawa!
           
Dengan begitu, sudah sepantasnya Lombok Sumbawa menjadi barometer tempat-tempat lain di Indonesia. Semoga Khazanah Ramadan dalam Pesona Seribu Masjid kali ini mendatangkan berkah bagi kita semua, serta kegiatan-kegiatan positifnya terhitung sebagai amal ibadah oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Aamiin. Serta semoga ramadan kali ini adalah momentum bagi seluruh umat muslim, khususnya masyarakat Lombok Sumbawa untuk memberitahu semua orang kalau Lombok akan kalian tahu jika kalian mendatanginya dan merasakannya sendiri.




Tanak Awu, 1 Juni 2017

Baca selengkapnya

Jumat, 19 Mei 2017

Balada Semester Akhir




Dulu, awal-awal masuk kuliyah, saya sering dibuat heran saat ngelihat kakak tingkat yang semesternya udah udzur sampai 14 tapi belum-belum wisuda. Saya mikirnya, : “Ini anak ngga kasian apa sama orang tua.” Atau “Mereka senang aja ngelihat kampus sampai-sampai ngga mau wisuda.” Bahkan saya sampai pernah bilang “Ini kayaknya dia ngga mau wisuda sebab nunggu anak mantan yang baru nikah wisudain anaknya. Ya, biar sama-sama gitu.” Tapi, semua berubah ketika saya sudah masuk semester tujuh . KKP (Kuliyah Kerja Partisipatif), PPL, dan sekarang skripsi. Serem, coy! Lebih serem dari diputusin pacar di depan dosen pembimbing yang baru aja nyoret tujuan penelitian skripsi! Mau nangis ngga bisa, mau ketawa ngga mungkin, akhirnya senyum sambil bilang, ”Iya Pak, besok saya perbaiki…”
               
Dan sekarang saya sudah semester 8. Awalnya perasaan saya dag dig dug waktu pertama kali konsul judul. BTW, walaupun judul udah keterima, tapi, di jurusan saya, wajib konsultasi judul dulu sebelum buat proposal, baik dengan dosen pembimbing dua atau satu. Kenapa? Ya, karena judul skripsi saya bedalah. Ntar salah baris atau gimana, bisa salah untuk selanjutnya. Jadi, setelah judul skripsi saya fix :

, saya pun ngebut buat proposal dan tetek bengeknya.
           
Hari pertama mau konsul, dosen ngga masuk, hari kedua, dosen ngga masuk juga, hari ketiga hujan-hujanan ke kampus buat konsul, dosen ngga masuk karena di rumahnya juga hujan, hari keempat saya malas bangun tidur karena semalam begadang, tahunya dosen masuk dan teman-teman yang kebetulan dosen pembimbingnya sama, proposal mereka diperiksa. Hari selanjutnya sampai pada akhirnya saya pun dapat ketemu beliau. Tapi karena malas nunggu antrian diperiksa, saya pulang, saya masa bodoh, eh, teman saya di-acc, saya belum konsul sama sekali. Sampai saya kesel, keesokan harinya, saya tunggu di depan gerbang, dosen tepok jidat “Aduh, proposal yang kamu taruh di meja ibu, ketinggalan di mobil suami saya.” Katanya. Saya tepuk pundak. Karena ngga mungkin tepuk pundak orang.
           
Hari itu juga beliau nyuruh datang ke rumahnya. Saya ikutin dari belakang. Beliau pakai motor, saya pun juga. Suasana cukup meneganggkan, miripdi film action. Saya buntutin beliau dari belakang, demi proposal saya diperiksa hari itu juga. Alhasil, hari itu juga proposal saya diperika dan dicoret. Hingga beberapa kali konsul, akhirnya diterima. Eh, ternyata proposal tadi harus dikonsultasikan ke dosen pembimbing pertama lagi. Kembali ke awal,konsul sama dosen pembimbing satu, dicoret, revisi, coret, revisi lagi, jomblo, nembak, diputusin, revisi lagi, dan begitu seterusnya sampai hari ini. Bwahk! Namun saya percaya, tak ada usaha yang menghianati hasil. Seperti usaha untuk ketemu dosen dan mengidam-idamkan tanda tangan yang diiringi dengan kata ‘acc.’ Teruntuk pejuang skripsi, semangatlah!  Dan teruntuk semua kakak tingkat yang pernah saya ketawain, “Maafkan adikmu yang hina ini…”



Mataram, 18 Mei 2017
Ditulis setelah ganti domain. Ngga penting? Emang!

Baca selengkapnya